Woles : Jeda Ditengah Kecepatan


Dicomot dari sini
Beberapa mengklaim bahwa kata ini sudah menjadi kamus pergaulan mahasiswa kesenian di salah satu institut di Jakarta. Tetapi beberapa juga mengklaim, ia datang dari sebuah merek distro di Jakarta. Namun ditarik jauh kebelakang masyarakat Kota Malang, Jawa Timur sudah terlebih dahulu mempopulerkannya. Mengingat kebiasaan mereka yang sering membalikan susunan abjad pada suatu kata.

Entahlah, polemik ini tak kunjung usai, serta tidak substantif pula untuk dibahas.

Namun yang terpenting adalah kata ini sudah seperti “bola liar”, sulit diprediksi, dan menyebar tak tentu arah. Penggunaannya tidak lagi menjadi barang asing. Beberapa menganggapnya keren, dikomersilkan dalam bentuk produk yang mendatangkan keuntungan. 

Kata ini merupakan kebalikan dari “slow” yang merupakan serapan dari Bahasa Inggris yang berarti "pelan". Atau dapat disetarakan dengan “tidak terburu-buru”, “sabar”, “santai” dan “relax”. Tetapi menjadi sesuatu yang janggal ketika penyebarannya di sebuah kota, terutama Jakarta.

Dalam hal ini, kota selalu disimbolkan dengan kebesaran, kemegahan, masif, modernitas, komersial, dan kecepatan. Untuk hal yang terakhir, kecepatan,  kata “woles” menjadi sebuah pembangkangan pada sifat kota. Bagaimana mungkin ketika manusia kota yang dituntut serba cepat itu gemar sekali dengan kata "woles" ? 

Boleh jadi hal ini merupakan kompensasi dari kejenuhan akan kecepatan yang sebenarnya masyarakat tidak bisa hindarkan. Terlebih apabila ditilik dari susunan hurufnya yang terbalik itu. Menciptakan penyamaran, kode bagi siapa saja yang telah mengerti. Tafsiran dan penggunaan hanya untuk mereka yang hendak sejenak jeda. "Woles" bisa menjadi ungkapan atau manifes negosiasi dalam diri, antara dunia dalam dan luar. Antara bathin dan lingkungan tempat mereka hidup. 

"Woles" bisa menjadi malapetaka ketika diungkapkan ditengah urusan yang harus disegerakan. Juga bisa menjadi kata pamungkas untuk menenangkan seorang atau kelompok yang panik dikejar waktu : "Woles !"

Komentar