![]() |
| Gambar ini dicomot dari sini |
Pada suatu ketika entah disuatu waktu, dan tempat, atau mungkin hanya bersemayam di suatu pikiran. Bertemulah si kucing dan anjing di belakang dapur sebuah restoran tempat dimana puluhan buntalan sampah bertumpuk mesra disana. Entah dalam rangka apa si kucing dan si anjing ber-rendezvous, mungkin hanya kebetulan bersirobok.
Si kucing dengan
gayanya yang anggun namun tetap waspada mendekati si anjing yang sedang
menjulur-julurkan lidah, lalu menegurnya, “Njing ngapain lu disini ?”.
Anjing pun
dengan setengah kaget karena tidak tahu kehadirannya menjawab dengan ketus, “Suka-suka gue dong !?”.
Mungkin
berhubung bawaan alam yang menakdirkan anjing untuk sebel
sama kucing, atau karena kekesalan
akibat kaget, anjing pun mulai melemparkan pertanyaan
yang agak menyakitkan, “Cing gimana kabar famili lu Si Belang yang mampus akibat masuk ke wajan
penggorengan ?” Dengan tawa ala ‘Goofy’ Walt Disney, si
anjing merasa menang.
Mendengar
pertanyaan itu si kucing menjawabnya dengan agak diplomatis namun berisi
serangan kepada si anjing, “Yah begitulah, tapi gue tetep bangga dengan beliau, soalnya dia lebih memilih berdikari
tanpa tuan, walau harus mati dengan cara mengenaskan, beda sama famili lu yang bisanya cuma
‘oke-oke boss doang’, budaya ABS, asal boss senang !”.
“Yah tetapi buat apa kalau harus mati kayak
begitu, mengenaskan ! Sudah itu di sumpahi manusia lagi…”, kelit Si Anjing.
Merasa familinya
direndahkan, Si Kucing mulai berargumen, “Coba dong lu berkaca, famili lu siapa itu ? Mmm...
Gue nggak tahu namanya, harus mati menunggu tuannya di peron di Jepang (Hachiko)
!”
Si kucing kembali memberondong bak retorika, tetapi terdengar oleh
manusia biasa seperti meracau namun ritmis, “Udah tau tuannya gak datang, eh malah ditunggu, matilah kau
kedinginan… Ga rasional, makan tuh setia ! (lho ? hewan bisa rasional juga ya ? Namanya
juga cerita, hehehehe…)”
Tak mau kalah,
merasa lidah anjing lebih panjang dari si kucing, si anjing mulai bernada, “toh
biarlah ia mati dalam kehormatan menjunjung tinggi loyalitas, dari pada famili
lu ! Busuk !
Didepan anggun, tapi kalo ada kesempatan langsung menusuk, dasar garong !
Seolah setia, namun licik !”. Pedas dan mengalir bagai sungai.
Tak cukup satu
babak dari si anjing, si kucing melanjutkannya dengan babak lain, dengan
gayanya seperti biasa, “Kawan seperhewananku hal itu semata-mata hanyalah bagian dari taktik,
dari sebuah tujuan”. Kembali ia menambahkan, “Coba dong lu liat family besar gw, si raja hutan yang tinggal di belantara,
namanya harum, sampai-sampai nama singa selalu disandingkan dengan manusia, untuk apa-apa yang berbau kuat dan perkasa.”
Well… Belum khatam famili kecil, mereka sudah merambah ke famili besar mereka yang jauh lebih buas dan tangkas. Jauh dengan Si Kucing dan Si Anjing yang kelas bulu.
Si anjing mencoba mengkrtisinya dengan,
“Tapi buat apa kalo rakus !? Pagar makan tanaman !” Kemudian ia
menambahkannya lagi, “Sudah rakus, pemalas pula… Coba lu liat singa, sudah
istrinya banyak, ogah berburu, makan pun duluan, sudah itu ia sisakan remah-remahnya
pula bagi kawanannya, apa itu yang dinamakan mandiri ?”
Gonggongannya makin pasti, seiring benaknya yang
dipicu rasa ingin mengalahkan menyulut si anjing. Ia segera kembali melanjutkan kritiknya, “Parahnya lagi sifat famili lu yang licik itu, saling
menjatuhkan ! Wajar saja begitu tragis saat si singa tua mati dihabisi si muda,
dan janda-janda-nya pun digarap oleh si muda, matilah ia mengusung kesepian !”
Terkekeh-kekeh si anjing setelah melontarkan pernyataan tadi disertai buliran
air mata saking girangnya.
Senyum kucing agak sinis dan ia pun
berkilah disertai serangan, “Halah… Jangan bodoh ! Lu liat perilaku serigala itu, tiap malam kerjaannya hanya di bukit,
kesepian mencari kawanan, melolong-lolong tak karuan, terdengar seperti memanggil
tetapi
sebenarnya merindukan bulan untuk diajak kencan”. Kucing tak kalah kencangnya
tertawa dibanding anjing, dan kemudian melanjutkan kembali, “Mana tadi loyalitas yang lu elu-elukan, toh berakhir
di keranjang sampah, mau berakhir seperti serigala yang kesepian dengan
mengatasnamakan kesetiaan ???” “Toh pada akhirnya kawanan lu juga akan meninggalkan lu, dimana letak
kesetiaannya ?”, kucing kembali menekankan.
Si anjing kembali bersilat mendengar
pernyataan si kucing, “Biarlah, itu hanyalah
sementara, toh dibalik itu semua ada semangat persamaan yang selalu dijunjung,
serigala selalu berbagi, dibanding singa yang sok kuat makan sendirian, tapi
akhirnya reyot setelah tua digilas oleh roda jaman.”
Hening beberapa saat… Si kucing kembali angkat bicara, berargumen untuk patahkan premis Si Anjing, “Friend, itu semata-mata
hanya aplikasi dari survival of fittest-nya Darwin (Kok bawa-bawa Darwin segala ? Namanya juga cerita
fiktif), yang kuat bertahan, yang lemah enyah ! Ingat itu Njing”. Si kucing kembali
berargumen, “Nah, dari pada itu juga singa jadi melegenda, dan eksis.”
Melihat ada celah yang mampu di selipkan, Si Anjing menyelipkan dengan,
“Iya memang, tapi agak mirip-mirip laba-laba kisah famili lu, cuma lebih menyedihkan.
Kalo laba-laba, mengorbankan dirinya untuk dimakan anak-anaknya, tapi singa
lebih tragis ! Dia dibantai oleh
anak-anaknya demi berebut tampuk kuasa, parahnya lagi si singa tua gak rela !? Iya
legenda, legenda suram ! Iya eksis, kisah tragisnya yang eksis !”
Tak beberapa lama kemudian… “Ah itu mah
pikiran sempit lu aja, gara-gara terlalu termakan doktrin loyalitas dan kelompok lu itu yang akhirnya berujung
sama, yaitu
kebodohan. Tidak seperti gue yang enggan
ketergantungan”, serang Si Kucing pada Si Anjing.
Si Anjing pun mengelak bak
petinju, dan menggelontorkan serangan, “Kita ini hidup harus bersama-sama, beda
dengan lu
yang teracuni faham-faham sesat yang membuat lu masuk ke jurang kenistaan, wajar saja kalo lu di tendang manusia,
karena lebih senang tidur dan bermalas-malasan tetapi mau hasil banyak.”
Tanpa disadari oleh kedua belah pihak,
seorang manusia duduk sedari tadi
memperhatikan keduanya yang asik beradu argumen. Entah memiliki visi atau
sebuah kemampuan indigo yang mirip dimiliki nabi, si manusia
yang kelihatan mengerti bahasa mereka juga mulai asik sendiri menarik
kesimpulan ditengah-tengah kedua belah pihak yang berdialog dengan urat.
Namun, disadari pula oleh si manusia jika
ucapan mereka mulai tak sehat dan kacau, bahkan keduanya sudah menyiapkan cakar
dan taring yang terhunus. Si manusia dengan mengendap-endap mengambil seember
penuh air panas di dalam dapur restoran itu dan… Blush !
Tumpah ruah air itu membasahi sekujur tubuh mungil si kucing dan tubuh ringkih
si anjing, memandikan mereka secara fisik, serta mencairkan kebekuan dialog mereka tadi.
Mereka pun tunggang-langgang dan berpencar… Nampaknya kedua hewan tersebut masih agak kesal, baik
pada lawan bicara maupun manusia yang menyiram mereka. Lantaran disiram
tadi si anjing sontak bernostalgia mengingat kembali tuannya,
ia pun ber-retrospeksi sembari berpikir. Begitu juga si kucing, karena ia tak pernah mandi,
ia pun mulai merasakan suatu sensasi baru yang membuatnya ber-introspeksi seraya merenung.
Mereka berdua pun juga mengambil kesimpulan. Tetapi apa kesimpulannya
entahlah…

Komentar
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan jejak berupa komentar. Tetapi ingat, hargai pengunjung lain dengan sopan dalam berkomentar.