Api Dalam Sekam Hubungan Beda Agama

Untuk kepentingan cerita, pelaku dan fakta sudah dicampur dengan imajinasi. Apabila ada kemiripan tokoh dan peristiwa, tentu itu bukan tanggung jawab penulis. Barangkali pembaca yang memang terlanjur baper.

Gue dulu pernah punya pacar, dia cinta pertama gue. Maaf. Maksud gue dia cinta yang saling suka satu sama lain. Bukan sama-sama suka, gue suka sama dia dan dia suka sama orang lain. #Jleb. Dia memiliki nama Ana. Berdarah A. Berbintang Taurus yang katanya tipikal setia. Entah.
Udah masuk penjara

Dia orang yang spesial buat gue (waktu itu). Kita pernah jalanin selama 7 tahun. Ya, angka keramat, 7 tahun. Bukan cuma lamanya yang bikin spesial, tetapi hubungan gue seperti yang di bilang Soetan Batughana : "Ngeri-ngeri Sedap." Kok bisa begitu ? Jadi begini gue itu pacaran dengan perbedaan yang mendasar : Agama. Gue Islam dan dia Katholik. Sebenernya sih awalnya gue cuma iseng-iseng, tapi terlanjur 'nyaman'. Makanya hati-hati kalo bicara iseng-iseng, biasanya kebanyakan isengnya jadi hobi atau nyandu.

Dulu gue punya tetangga, dan dia mantannya mantan gue. Kebetulan dia juga temen gue, dan dia sering banget ngebangga-banggain pacarnya itu ke tongkrongan. Banyak dari temen-temen dan termasuk gue yang menilai itu lebay. Sangat lebay. Diperparah lagi temen gue itu dewa-nya bullshit di tongkrongan. Jambanlah pokoknya. Omongannya ngga ada yang akurat, dan kebanyakan ngibul. Biasa deh kalo dia ngomong anak-anak cuma nyengir penuh makna. Biar dia seneng.

Ngga tahu ya saking muaknya gue dengan omongan dia, insting investigatif gue pun bergeliat. Kebetulan aja dia berdua putus, gue pun mengambil momentum. Sekitar tiga bulan gue mepet dia, dan 'kena' ! Tapi saat itu juga gue merasa bersalah dan malu, soalnya gue baru tahu kalo temen gue lagi ancang-ancang balikan. Duh, maaf gue nggak tahu itu.

Perjalanan gue sama dia pun berlanjut. Ternyata emang orangnya punya kepribadian yang asik banget. Kalo bicara ini-itu nyambung, baik, pengertian, cerdas, feminin, dan sangat easy going. Paling gue suka dari dia yaitu ketika sms-an (waktu itu belum ada smartphone, baru BB doang). Dia selalu punya cara yang asyik dan beda dari yang lainnya ketika kirim sandek (pesan pendek). Entah bikin emoticonlah, entah dari kalimat yang anehnya, banyak deh.

Dari situ gue percaya banget kalo kali ini temen gue ngga bohong tentang mantannya. Mungkin cara nyeritain dia aja kali yang terlalu berapi-api sampe kesannya 'gitu amat.' hehehe

ilustrasi
Selama gue berhubungan, kalo di hitung dengan matematika murni, pertemuan gue itu ngga bisa dibilang 7 tahun full. Soalnya waktu itu gue kan berhubungan secara backstreet. Gue menyembunyikan status berpacaran dari tetangga maupun orang tua. Jadi main kucing-kucingan lah, gimana caranya biar nggak ketahuan. Jadi wajarlah jika kita nggak bisa ketemu setiap hari.

Tapi dari model hubungan macam ini terbukti jauh dari bosen. Gimana bisa bosen, kalo tiap rendezvous aja selalu bikin deg-degan !? Ngeri ketahuan. Sebenernya sih bosen mungkin ada, ya cuma masing-masing dari kita bisa ngumpetinnya aja. Bagaimana caranya nggak muncul ke permukaan untuk kepentingan bersama-sama. Ngga pernah ada ucapan terang-terangan yang ada cuma tindakan yang kerasa.

Lama-kelamaan, tepatnya di tahun kelima, do'i udah mulai 'mellow'. Setiap ketemu selalu mempertanyakan arah dan tujuan hubungan. Kalo udah begitu diakhiri dengan mewek, 'puk-puk' dan perpanjangan hubungan. Emang sebenernya hubungan gue dan dia udah harus berakhir di umur 4 tahun. Karena sesuai perjanjian awal, sampe salah satu ada yang lulus kuliah dan bekerja.

Ya janji kan tinggal janji. Kalo gue niat bubaran dan dia ogah. Kalo dia niat bubaran dan gue ogah. Begitu mulu sampe kita bingung sendiri. Seperti ngga ada yang mau sakitin satu sama lain.

Dulu sih pertimbangan gue jalanin hubungan beda agama sih simpel aja. Gue pikir 'let it flow' aja, biar Allah yang carikan jalannya. Cuma makin kesini banyak ide gila yang bermunculan, dari mulai kawin lari, pindah agama bohongan, sampai kawin di luar negeri. Wah gila, hati gue menjerit.

Keluar angka 7
Menurut gue bagi orang yang beradat ketimuran, menikah itu bukan sekedar mempersatukan dua insan yang berbeda (secara jenis kelamin dan latar belakang), tetapi juga keluarga. Gue ngga mau setelah menikah nanti hubungan gue dengan keluarga malah jadi runyam. Begitu juga dengan keluarga di pihak seberang. Selain itu menurut gue akan banyak masalah yang menunggu apabila satu rumah berisi banyak agama. Apakah dari segi nilai, legalitas, sosial, dan etis.

Kacaunya lagi kita menerapkan prinsip yang terlalu egaliter, hampir tak ada yang dominan. Gue nggak pernah ajak dia untuk masuk agama gue, begitu juga sebaliknya. Kita nggak pernah debatin agama; kita nggak pernah bicarain kitab suci; kita nggak pernah bicarain penyebutan nama nabi. Kita cuma bicara hal keduniawian, sekiranya masuk ranah agama, akan selalu ada saja yang membelokan. Entah gue atau dia.

Tapi bener saja kata gue, biar Allah yang carikan jalan. Di tahun ketujuh, pertemuan gue sama do'i menjadi kian jarang. Dia cenderung menghindar, lebih mentingin teman-temannya. Kendati gue udah janji duluan, do'i ga segan untuk cancel janji dengan gue demi temennya. Siapa yang tahan 3 bulan nggak ketemu dan jarang komunikasi, tapi seperti nggak ada apa-apa ?

Ditambah lagi nggak ada lagi kangen-kangenan, yang ada cuma pertanyaan tujuan akhir hubungan. Barangkali hal itu akibat sering gue ajak kondangan yang membuat dia 'mellow'. Ditambah lagi kakaknya juga mengetahui hubungan kita dan sering mempertanyakan hal yang sama.

Di titik itu gue merasa kalo do'i ngelakuin tindakan mundur perlahan. Gue pun berinisiatif bubar dan mengajukan proposal ke dia. Do'i pun nggak langsung acc, tapi diwarnai dulu dengan haru biru. Di sini gue hampir goyah, ngga tega buat ngelepas dia. Pertanyaan yang bikin gue kuat waktu itu : mau sampai kapan lagi ?

Akhirnya kita pun pisah. Setiap hari minggu dia tidak lagi dijemput gue, dia pulang sendiri. Sedangkan tiap jumat gue seperti biasa, pulang sendiri. Sendiri-sendiri lagi.

Selepas bubaran, gue mengalami apa yang disebut post trauma broken heart. Meski nggak parah, cuma ada yang kosong aja di dada gue. Sepi. Karena saking lamanya gue sama dia. Waktu itu gue masih aja anggep kalo setiap sms masuk pasti dari dia; Atau gue yang sering lupa untuk nunggu ucapan selamat malam dari orang yang sebenernya udah nggak mungkin lagi ucapin ke gue; Atau gue yang terbangun dengan merasa senang, lalu tiba-tiba hilang karena gue udah nggak lagi sama dia.

Sekarang do'i sama gue biasa-biasa aja jadi teman. Sesekali kita bertemu karena tidak disengaja. Tak jarang juga kita bertegur sapa lewat gawai. Dia sudah menjalani hubungan dengan orang lain pula. Biasa saja. Namun jujur, barangkali cinta pertama atau karena saking lamanya, terkadang banyak juga sifat yang ideal dari do'i gue inginkan di hubungan yang berikutnya. Padahal kalo dipikir ngga bakal mungkin kan ada dua orang yang sama, yang benar-benar mirip ? Gue ngga adil ya ? Entah.

Komentar