Ngga salah emang kalo anak sekarang lebih pinter-pinter dan canggih. Coba lihat aja anak SD sekarang omongannya top-markotop. Mereka udah pada tahu apa itu konspirasi global, fellatio, atau gaji pemain bola di klub terkenal. Yang bahkan ibu dan bapaknya aja belum tentu (ngurusin) tahu itu. Kesannya tua sebelum waktunya.
Kalo di jaman gue pas sekolah dasar (SD), yang kebetulan tumbuh di era akhir 90an, omongannya ya palingan sekitaran aja. Lingkupnya kecil. Kalopun ada pasti kita mengira dia sering langganan majalah atau aneh. Omongan yang canggih pun mentok-mentok cuma denger-denger yang diakhiri dengan 'katanya'.
Emang nggak heran kalo anak sekarang disebut generasi y yang berciri-ciri penggunaan teknologi komunikasi yang masif. Bahkan cenderung nyandu. Maka jangan heran kalo anak SD sekarang lebih milih diem menatap gawai-nya ketimbang ngobrol. Atau bahkan main bareng teman-temannya.
Entah kenapa fenomena nyandu gawai itu nyodok pada suatu pertanyaan : bagaimana jika suatu saat nanti listrik mati total ? Jreeeng !!! Atau yang agak ekstrim, apabila hilang selama-lamanya ! Eitttsss, emang agak gak masuk di akal. Tapi coba pikir apabila energi fosil habis ? Lalu, bagaimana dengan sumber energi terbarukan seperti matahari ? Apakah matahari tidak bisa habis ? Lalu dengan air dan angin ? Itu tergantung lokasi, jika bisa pun tidak sebesar energi yang dihasilkan fosil.
Di jaman gue, apabila nggak ada listrik, atau permainan yang mengandung listrik, kita masih bisa main. Entah karambol, monopoli, congklak, galaksin, benteng, getok lele, engkle, lompat karet, dan lain-lain. Lalu jika minim lahan dan nggak ada alatnya gimana ? Ketiadaan halaman yang luas atau alat pendukung juga bukan soal bagi kami di masa itu.
Karena menurut gue dari permainan yang terkesan 'kampungan' dan tidak high-tech itu banyak banget pelajaran yang bisa di ambil. Apakah itu kerja sama, persaingan sehat, kejujuran, ketangkasan, kelincahan, dan lain-lain. Dari kesemua pelajaran tadi, menurut gue yang paling penting adalah interaksi. Ya, interaksi nyata bersama manusia beneran.
Seinget gue waktu SD gue pernah memainkan permainan yang hanya menggunakan kertas dan alat tulis. Gue nggak pernah tahu apa nama permainan ini. Barangkali elu bisa namain permainan ini setelah gue jelasin aturannya. Silahkan...
Pemain dalam mainan ini harus berjumlah minimal dua, sebenernya sendiri bisa. Tapi bukan main ini, mainin sabun. Ngga usah tanya !? Nah, di permainan ini makin banyak makin seru, karena melibatkan banyak pikiran. Makin banyak kepala akan makin banyak hal tidak terduga. Karena tujuan akhir dari permainan ini tidak cari siapa yang menang dan kalah. Cuma seru-seruan, ngakak bareng. Jadi nggak perlu khawatir di-bully apabila menjadi pecundang.
Pertama, kertas di potong-potong seukuran bungkus rokok lalu di bagikan ke peserta. Lalu, peserta harus menuliskan nama orang, siapapun itu ! Akan lebih seru apabila nama orang tersebut dikenal dekat oleh para peserta. Kemudian kertas yang bertuliskan nama tersebut dilipat dan dioper kepeserta lainnya yang berada di sampingnya. Boleh sebelah kanan atau kiri. Operan kertas itu juga harus konsisten sampai akhir permainan. Agar lebih greget, disarankan para pemain tidak membuka kertas hingga putaran berhenti.
Langkah kedua, setelah menerima kertas terlipat, para pemain harus menuliskan kata kerja. Dan melipatnya kembali, lalu berikan ke pemain yang berada di sebelahnya. Tetapi disarankan untuk kata kerja yang tidak berkaitan dengan penggunaan alat seperti menyapu, mengepel, mendongkrak, dan lainnya. Perlu diingat, penulisan juga harus ditulis di bawah lipatan, bukan di bagian lipatan.
Ketiga, pemain harus menuliskan bagian pada tubuh manusia. Bisa kaki, otak, lidah, gigi, dan seterusnya. Seperti langkah sebelumnya, pemain harus melipat dan memberikan ke pemain sebelahnya.
Keempat, pemain disuruh menuliskan nama hewan. Disarankan untuk tidak menulis hewan-hewan yang berukuran mini. Seperti amuba, cacing, bekicot, dan sebangsanya. Setelah selesai dilanjut dengan pemain kembali melipat dan mengoper.
Kelima, pemain harus menuliskan kata tempat. Tentu akan lebih seru apabila tempat-tempat yang ditulis tidak umum. Seperti kuburan, kandang macan, sumur, kalijodo, dan seabrek lainnya.
Terakhir, pemain harus membuka semua lipatan dan membacakannya keras-keras. Sebenernya dari langkah tadi, momen ini yang paling di tunggu. Akan banyak kejutan-kejutan yang menunggu. Seperti : Adit menghisap pantat monyet di kandang kambing; Budi cium ketek jerapah di dapur; Tole iseptitit tetek gajah di sarang macan. Untuk ukuran gue waktu itu, gue anggap itu lucu. Apalagi temen-temen dan termasuk gue yang nyimpen bibit cabul, seringkali nulis ngga jauh dari selangkangan. Ada aja kalimat yang kocak ! Ngga jarang kita ngakak sampe keluar air mata. Tetapi kejutan juga ngga selalu berakhir baik. Ada aja yang janggal. Seperti : Dina garuk usus macan di kamar mayat. Sadis ?; Tina nyabut mata singa di tiang listrik. Berani ?
Menurut pengamatan gue, ngga jarang permainan ini menyimpan potensi bahaya. Bukan cedera fisik, tetapi cidera hati. Jika begitu harus berobat kemana ? Nah, oleh sebab itu disamping kekuatan pikir, pemain juga harus dituntut untuk memiliki ketajaman hati. Untuk tidak membubuhkan nama spesial di permainan ini, seperti ibu, bapak, kakek, nenek,pacar, mantan, dan saudara.
Pernah waktu itu permainan berakhir dengan pukul-pukulan dan cakar-cakaran. Bukan seperti biasanya, mata berair dan perut sakit. Hal itu ditenggarai teman gue yang waktu itu nulis nama bapak, kemudian berubah menjadi berbalas-balasan. Berlanjut kepada emak, paklik, pakde, bulik, bude, dan hampir seluruh handai taulan. Karena hal yang lumrah kala itu bahwa penyebutan nama orang tua merupakan penghinaan fatal.
Nama orang spesial tadi akan terasa menyakitkan apabila kalimatnya sangat-sangat laughable. Jika sudah begitu, biasanya permainan akan berakhir dan berganti menjadi tarung bebas. Sama sekali tidak asyik.
Yaaah... Namanya juga anak-anak.
![]() |
| Meme ini ngga ada kaitan sama tulisan |
Emang nggak heran kalo anak sekarang disebut generasi y yang berciri-ciri penggunaan teknologi komunikasi yang masif. Bahkan cenderung nyandu. Maka jangan heran kalo anak SD sekarang lebih milih diem menatap gawai-nya ketimbang ngobrol. Atau bahkan main bareng teman-temannya.
Entah kenapa fenomena nyandu gawai itu nyodok pada suatu pertanyaan : bagaimana jika suatu saat nanti listrik mati total ? Jreeeng !!! Atau yang agak ekstrim, apabila hilang selama-lamanya ! Eitttsss, emang agak gak masuk di akal. Tapi coba pikir apabila energi fosil habis ? Lalu, bagaimana dengan sumber energi terbarukan seperti matahari ? Apakah matahari tidak bisa habis ? Lalu dengan air dan angin ? Itu tergantung lokasi, jika bisa pun tidak sebesar energi yang dihasilkan fosil.
Di jaman gue, apabila nggak ada listrik, atau permainan yang mengandung listrik, kita masih bisa main. Entah karambol, monopoli, congklak, galaksin, benteng, getok lele, engkle, lompat karet, dan lain-lain. Lalu jika minim lahan dan nggak ada alatnya gimana ? Ketiadaan halaman yang luas atau alat pendukung juga bukan soal bagi kami di masa itu.
![]() |
| Foto Si Mbah |
Seinget gue waktu SD gue pernah memainkan permainan yang hanya menggunakan kertas dan alat tulis. Gue nggak pernah tahu apa nama permainan ini. Barangkali elu bisa namain permainan ini setelah gue jelasin aturannya. Silahkan...
Pemain dalam mainan ini harus berjumlah minimal dua, sebenernya sendiri bisa. Tapi bukan main ini, mainin sabun. Ngga usah tanya !? Nah, di permainan ini makin banyak makin seru, karena melibatkan banyak pikiran. Makin banyak kepala akan makin banyak hal tidak terduga. Karena tujuan akhir dari permainan ini tidak cari siapa yang menang dan kalah. Cuma seru-seruan, ngakak bareng. Jadi nggak perlu khawatir di-bully apabila menjadi pecundang.
Pertama, kertas di potong-potong seukuran bungkus rokok lalu di bagikan ke peserta. Lalu, peserta harus menuliskan nama orang, siapapun itu ! Akan lebih seru apabila nama orang tersebut dikenal dekat oleh para peserta. Kemudian kertas yang bertuliskan nama tersebut dilipat dan dioper kepeserta lainnya yang berada di sampingnya. Boleh sebelah kanan atau kiri. Operan kertas itu juga harus konsisten sampai akhir permainan. Agar lebih greget, disarankan para pemain tidak membuka kertas hingga putaran berhenti.
Langkah kedua, setelah menerima kertas terlipat, para pemain harus menuliskan kata kerja. Dan melipatnya kembali, lalu berikan ke pemain yang berada di sebelahnya. Tetapi disarankan untuk kata kerja yang tidak berkaitan dengan penggunaan alat seperti menyapu, mengepel, mendongkrak, dan lainnya. Perlu diingat, penulisan juga harus ditulis di bawah lipatan, bukan di bagian lipatan.
![]() |
| ilustrasi |
Ketiga, pemain harus menuliskan bagian pada tubuh manusia. Bisa kaki, otak, lidah, gigi, dan seterusnya. Seperti langkah sebelumnya, pemain harus melipat dan memberikan ke pemain sebelahnya.
Keempat, pemain disuruh menuliskan nama hewan. Disarankan untuk tidak menulis hewan-hewan yang berukuran mini. Seperti amuba, cacing, bekicot, dan sebangsanya. Setelah selesai dilanjut dengan pemain kembali melipat dan mengoper.
Kelima, pemain harus menuliskan kata tempat. Tentu akan lebih seru apabila tempat-tempat yang ditulis tidak umum. Seperti kuburan, kandang macan, sumur, kalijodo, dan seabrek lainnya.
Terakhir, pemain harus membuka semua lipatan dan membacakannya keras-keras. Sebenernya dari langkah tadi, momen ini yang paling di tunggu. Akan banyak kejutan-kejutan yang menunggu. Seperti : Adit menghisap pantat monyet di kandang kambing; Budi cium ketek jerapah di dapur; Tole isep
![]() |
| bocah berantem |
Menurut pengamatan gue, ngga jarang permainan ini menyimpan potensi bahaya. Bukan cedera fisik, tetapi cidera hati. Jika begitu harus berobat kemana ? Nah, oleh sebab itu disamping kekuatan pikir, pemain juga harus dituntut untuk memiliki ketajaman hati. Untuk tidak membubuhkan nama spesial di permainan ini, seperti ibu, bapak, kakek, nenek,
Pernah waktu itu permainan berakhir dengan pukul-pukulan dan cakar-cakaran. Bukan seperti biasanya, mata berair dan perut sakit. Hal itu ditenggarai teman gue yang waktu itu nulis nama bapak, kemudian berubah menjadi berbalas-balasan. Berlanjut kepada emak, paklik, pakde, bulik, bude, dan hampir seluruh handai taulan. Karena hal yang lumrah kala itu bahwa penyebutan nama orang tua merupakan penghinaan fatal.
Nama orang spesial tadi akan terasa menyakitkan apabila kalimatnya sangat-sangat laughable. Jika sudah begitu, biasanya permainan akan berakhir dan berganti menjadi tarung bebas. Sama sekali tidak asyik.
Yaaah... Namanya juga anak-anak.




Komentar
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan jejak berupa komentar. Tetapi ingat, hargai pengunjung lain dengan sopan dalam berkomentar.