Refleksi : Menulis dan Dorongan

Dicomot dari sini

Hmmm… Oke sekarang gue mau mencoba memulai nge-blog lagi. Gue bakal nge-blog apa pun itu. Blog ini bisa jadi semacam keranjang ide buat gue. Apakah itu yang lagi gue pikirin banget, ataupun yang lagi gue pendem di perasaan gue. Kesannya norak ya (macam diary gitu… Hello lu kan punya socmed) ? Yah, biarin deh seenggaknya gue kan ada penyaluran hasrat yang terpendam. Istilahnya ga macet… (Bahaya kalo jadi odol (ini ngomongin apa yak ?))

Serasa-rasa, gue ogah update blog itu karena gue emang orangnya rada males. Asli ! Kadang gue bertanya-tanya dalam diri gue, apakah males gue ini bawaan orok ? Atau kemalasan gue ini disebabkan basian kenakalan gue di masa lalu. Entahlah… Yang jelas gue males, titik.

Nah, setelah iseng berselancar, gue nemu formula mantep ala-ala spiritual. Lho, kenapa gue milih jalan spiritual ? Ya soalnya gue pikir “jalan materi” sejauh ini menurut gw kurang berhasil. Sebenernya bukan kurang berhasil juga, memang ngga ada orang yang mau bayarin gue untuk nulis. Hahahaha

Oke balik lagi ke jalan spiritual. Gue sebagai pria beragama, kendati setengah-seprapat, gue beragama Islam. Bokap dan Nyokap Islam, KTP Islam, punya kopyah, Al-Quran, baju koko, sarung, dan seperangkat alat shalat untuk… (lho... sebentar-sebentar). Jadi sudah sewajarnya kalo gue nyari jalan yang Islam. Dari hasil gue browsing, gue nemu do’a buat hilangin malas. Barangkali ada yang merasa dirinya pemalas dan juga beragama Islam, mungkin do’a ini berguna :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)
Doa yang berguna ini dikutip dari sini

Tapi setelah dikaji ulang dan disayat dengan berbagai teori psikologis teranyar. Ini boong. Gue orangnya juga lupaan ! Di titik ini gue merasa hampa, melayang-melayang setengah telanjang, lalu tersungkur tak berdaya (lebay !). Parah… Udah malas, juga lupaan, duh. Barangkali gue malas menghapal, lalu lupa. Jadi percuma do’a itu kalo gue sendiri ga ada kemauan untuk menghapal.

Kemalasan (dan lupaan) gue biarkan. Dia tinggal bersama diri gue dan kenangan masa lalu #tsaaaah. Lalu gue sadar, kemalasan gue itu paling gampang hilang ketika gue memiliki dorongan kuat. Sebuah pelatuk. Pemicu. Ledakan. Rangsangan. Tetapi apa, sampai sekarang masih belum ada jawaban, hanya ada pesan singkat “jangan ganggu aku.” Taeekkk

Tetapi untuk sementara waktu, yang kebetulan pas sama keadaan (batin) gue, menulis gue anggap sebagai berobat. Konyol yak ? Ya mungkin.

Nanti di lain waktu gue ceritain kronologisnya. Nggak sekarang. Simpan kepomu dulu di ketiak. Tunggu hingga berkeringat dan bau.

Komentar